ESQNews.id, JAKARTA - Hasil survei mengenai bisnis keluarga di Indonesia dinyatakan bahwa hanya 30% yang berhasil berlanjut hingga generasi kedua, hanya 13% yang dilanjutkan hingga generasi ketiga, dan hanya 3% yang mampu melanjutkan lebih dari generasi ketiga.
Permasalahan ini diangkat oleh ESQ Business School yang peduli terhadap keberlangsungan bisnis keluarga yang memberikan dampak positif terhadap ekonomi di Indonesia dengan program Second Generation ESQ Business School.
Program Second Generation merupakan kelas yang digelar oleh ESQ Business School khusus untuk generasi kedua dalam family business. Program ini dapat dilaksanakan selama satu tahun lamanya atau empat tahun penuh.
Pada hari Sabtu, 18 November 2023 program Second Generation ESQ Business School menghadirkan Nurhayati Subakat, Founder PT. Paragon Technology and Innovation dan juga Ary Ginanjar Agustian, founder ESQ Group.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam zoom meeting dihadiri oleh lebih dari 170 orang membahas mengenai bagaimana mendirikan bisnis dan bertahan.
Nurhayati Subakat yang akrab dengan panggilan Nur mengatakan bahwa Paragon sudah dibangun sejak tahun 1985 dengan nama PT. Pustaka Tradisi Ibu dan saat ini sudah mencapai usia 38 tahun dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
“Yang perlu kita turunkan kepada generasi berikutnya bukan hanya perusahaan, namun value dari perusahaan juga.
Sedangkan Paragon sendiri menurunkan value Bermakna.” Ujar Nur menceritakan bagaimana proses menurunkan perusahaan kepada generasi berikutnya.
Ada 5 core values yang dipegang oleh Paragon yakni Ketuhanan, Kepedulian, Kerendah Hatian, Ketangguhan, dan Inovasi.
Nur menjelaskan, “Dengan menganut lima nilai inti ini membantu Paragon menjadi perusahaan yang bermanfaat, bertumbuh, dan berkelanjutan dengan kebermaknaan dalam setiap prosesnya.”
Nilai-nilai tersebut berawal dari penanaman nilai yang kuat di dalam keluarga Nurhayati Subakat, selalu diterapkan dalam menjalani peran sebagai istri, ibu, nenek, serta seorang pengusaha.
Dengan penguatan nilai inti tersebut, kini Paragon sudah menjadi market leader di Indonesia.
“Menurut saya, apa yang dilakukan Paragon juga sama dengan ESQ Business School,
bagaimana karakter ini menjadi pondasi untuk mencapai kesuksesan.” Tutur Nurhayati Subakat.
Ary Ginanjar sebagai founder ESQ Group termasuk ESQ Business School setuju dengan apa yang disampaikan oleh Nurhayati Subakat.
Bagi Ary, ada 3 kecerdasan yang akan membuat bisnis Paragon dapat bertahan berdasarkan apa yang disampaikan oleh Nurhayati Subakat yakni IQ (kecerdasan intelektual) untuk membentuk berbagai inovasi, EQ (kecerdasan emosional) yakni kepedulian, kerendahan hati, ketangguhan, dan SQ (kecerdasan spiritual) adalah ketuhanan.
“Saya jadi teringat kisah Paragon ketika dulu terbakar pabriknya, Bu Nur tidak membubarkan karyawannya, namun kembali membangkitkan Paragon karena ada dasar ketuhanan. Pondasi ini yang diyakinkan oleh Bu Nur,
Juga Kerendah hatian, saya merasakan anak-anak Bu Nur juga sangat rendah hati dan peduli.
Tiga hal ini menjadi DNA Paragon dalam kesuksesan.”
Seperti pohon bambu, sebut Ary dalam menggambarkan Paragon. Karena goncangan apapun tetap eksis karena akarnya kuat dan batangnya kuat. Membuat apapun yang terjadi tetap kuat dan buahnya adalah produk-produk yang kini tidak asing di masyarakat.
Sedangkan Ary Ginanjar sendiri kini telah memiliki 18 unit usaha salah satunya ESQ Business School di bawah naungan ESQ, dan yang menjadi akarnya adalah 165 (ihsan, iman, dan islam).
Visi dan misi yang disampaikan oleh Ary Ginanjar untuk ESQ Group adalah ingin membangun Indonesia Emas, sehingga terus men-transfer value value yang ada dalam perusahaan.
Ary bercerita, bahwa salah satu anaknya yaitu Esqi bertanya dalam bentuk wawancara tugas mengenai visi misi perusahaan, ini hal yang diajarkan oleh Program Second Generation ESQ Business School untuk generasi selanjutnya akan dapat memahami bisnis generasi sebelumnya.
Esqi kini sedang menempuh pendidikan program Second Generation di ESQ Business School.
“Model pembangunan di Second Generation ESQ Business School ini adalah khusus untuk menangani dan membantu anak-anak generasi berikutnya.
Untuk paham menjadi generasi penerus yang jelas visi misinya. Karena kalau tidak, bisnis yang sudah dibangun bisa jadi hanya akan menjadi korban.” Jelas Ary.
Nur pun sepakat, buat Nurhayati, anak-anak perlu tau visi misi perusahaan. Hal ini Nur lakukan dengan metode coaching, yaitu bertanya secara menggali kepada anak apa yang mereka ingin lakukan.
Karena bagi Nur, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan untuk generasi selanjutnya yaitu planning, communication, dan education.
Maka, mempersiapkan generasi selanjutnya dengan planning, mulai komunikasi, dan memberikan pendidikan seperti di program Second Generation ESQ Business School.
Ditambahkan oleh Ary Ginanjar yang mengalami hal sama, ada satu rumus lagi yaitu dengan TalentDNA. Ary menggunakan TalentDNA untuk mengetahui potensi anak-anaknya untuk menjadi generasi penerus.
“Behind every family business is a family.” Tutup Ary Ginanjar pada sesi webinar pagi sabtu ini.





