ESQNews.id, Jakarta — ESQ Tours menggelar Focus Group Discussion (FGD) Persiapan Penyelenggaraan Haji 1447 H/2026 Mpada Kamis, 5 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah perencanaan berbasis risiko dalam menghadapi penyelenggaraan Haji 2026 dengan jumlah 766 jemaah, serta melibatkan para pakar lintas bidang dan seluruh petugas Haji ESQ Tours, baik secara luring maupun daring.
FGD tersebut menghadirkan sejumlah pakar, antara lain KH Cepi Supriatna (Sekretaris Jenderal FKKBIHU), dr. Cesro Maulana Sangka dan dr. Biancha Andardi, Sp.OG dari unsur medis, Dr. KH Abdul Adzim dan Ust. Syamsudin sebagai pembimbing ibadah ESQ Hajj, Muhamad Mandily sebagai pakar operasional haji di Arab Saudi, Aat Yuthi Darajatun selaku pembimbing wanita, serta Luki Alamsyah, Direktur Utama ESQ Tours.

Direktur ESQ Tours, Muhamad Solihin, menjelaskan bahwa forum ini difokuskan pada pemetaan risiko secara menyeluruh agar penyelenggaraan haji dapat dilaksanakan secara aman, tertib, dan sesuai ketentuan.
“Haji adalah amanah ibadah dengan tingkat risiko yang tinggi. Karena itu, kami memetakan risiko sejak awal dan menyepakati langkah mitigasinya bersama para pakar dan petugas,” ujarnya.

Dalam FGD tersebut, ESQ Tours memaparkan 11 Matrix Risiko dan Mitigasi Haji 2026 yang mencakup seluruh perjalanan jemaah, yaitu:
Risiko pada tahap pra-keberangkatan di Tanah Air, meliputi kesiapan fisik, mental, manasik, dan kelengkapan administrasi jemaah.
Risiko pada proses keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, termasuk antrean, kelelahan jemaah, serta penanganan lansia dan jemaah berisiko tinggi.
Risiko pada kedatangan di Bandara Haji Jeddah, khususnya proses imigrasi, waktu tunggu, dan mobilisasi menuju Makkah.
Risiko pada pelaksanaan Umrah Qudum, yang berkaitan dengan kepadatan area Masjidil Haram, kelelahan pascaperjalanan, dan kesalahan teknis ibadah.
Risiko akibat keterbatasan fasilitas di hotel transit, baik di Makkah maupun Madinah, yang berpotensi memengaruhi kenyamanan jemaah.
Risiko pada pergerakan jemaah menuju Arafah, termasuk keterbatasan waktu, kepadatan lalu lintas, dan kesiapan tenda.
Risiko pada pelaksanaan wukuf di Arafah, seperti panas ekstrem, keterbatasan fasilitas, dan kondisi kesehatan jemaah.
Risiko pada pergerakan dan mabit di Muzdalifah, terutama kelelahan fisik, pengaturan murur, dan pengumpulan batu jumrah.
Risiko pada pelaksanaan Thawaf Ifadhah, yang sering dipengaruhi kepadatan ekstrem dan kondisi fisik jemaah.
Risiko pada mabit di Mina dan pelaksanaan lontar jumrah, termasuk jarak tempuh, kepadatan, dan perubahan jadwal.
Risiko pada pergerakan ke Madinah atau kepulangan ke Tanah Air, meliputi kelelahan akhir, pengaturan transportasi, dan kepulangan jemaah.
Selain memaparkan matrix risiko, ESQ Tours juga menyampaikan hasil survei kepuasan jemaah Haji 2025 yang menunjukkan tingkat kepuasan tinggi pada aspek pembimbingan ibadah, kepedulian petugas, dan pembinaan spiritual.
Namun demikian, FGD ini menegaskan pentingnya pengelolaan ekspektasi jemaah terhadap realitas masya’ir yang memiliki keterbatasan fasilitas dan kapasitas.

Berdasarkan notulen FGD, para pakar sepakat bahwa tidak semua risiko dalam penyelenggaraan haji dapat dihilangkan, namun harus dikelola secara sadar melalui penguatan SOP, edukasi jemaah, serta kejelasan pengambilan keputusan di lapangan.
Hasil FGD ini akan ditindaklanjuti dalam bentuk penyempurnaan Standar Operasional Prosedur (SOP) Haji ESQ Tours 2026, penguatan materi manasik, serta pedoman kerja bagi seluruh petugas haji.

