Senin, H / 02 Februari 2026

Catatan Perjalanan Mudik 2019 (1) Ajaran Memuliakan Tamu di Pulau Lombok

Senin 10 Jun 2019 14:19 WIB

Reporter :Redaksi

Saya bersama Istri (paling kiri) bersama kedua orang tua kerabat dekat di Lombok

Foto: Singgih Wiryono

Di Pulau Lombok, tradisi menyambut tamu dengan sajian utama adalah tradisi turun-temurun yang masih terpelihara hingga sekarang. Itulah sebabnya, jika bertamu ke rumah kerabat dekat di Lombok, disarankan untuk berperut kosong.


*Singgih Wiryono


Mudik, Munduh Dithilik, sebuah kata yang begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Menjadi tradisi melepas rindu kampung halaman. Menjadi bagian tak terlupakan dalam moment spesial berkumpul bersama keluarga.


Tulisan kali ini mungkin semacam curhatan hati betapa bahagiannya saya bisa pulang ke tanah kelahiran setelah empat tahun berkarya di luar daerah kelahiran saya, Pulau Lombok. Sejuta pesona, seribu masjid, dengan senyuman penduduknya yang unlimited.


Mudik tahun ini, 2019 juga menjadi tahun pertama istri saya yang berasal dari Solo ikut ke Pulau Lombok. Sebelumnya Lombok tidak pernah terbayangkan oleh istri saya, seperti apa gerangan pulau yang disebut indah rupawan, bak potongan surga yang jatuh ke bumi itu.


Saya berangkat dari Jakarta Tanggal 1 Juni 2019, penerbangan Lion Air pukul 17.40 WIB dari Bandara Soekarno Hatta. Di tengah perjalanan menggunakan Bus Damri ke daerah Senggigi, saya senyum-senyum sendiri. Senyum bukan hanya karena begitu kangennya saya dengan tempat saya dibesarkan, melainkan arus lalu lintas yang begitu kontras antara Jakarta, tempat saya mengais rizki, dengan jalanan di Pulau Lombok.


Di Lombok, jalanan selalu lancar, seperti bagian dari Lebaran di Jakarta. Tak ada kemacetan yang berarti. Paling mentok adalah ketika pawai malam takbiran yang kemacetannya tak berlangsung hingga berjam-jam seperti di Jakarta. Itulah yang membuat saya senyum-senyum sendiri, jalanannya saja seperti surga, tak ada macet.


Setelah sesampainya di Senggigi, saya bertandan ke tempat kakak kelas saya semasa kuliah di Universitas Mataram. Beliau adalah M Fathul Aziz, yang juga seorang guru, organisator dan Ketua Karang Taruna Senggigi. Tanpa basa-basi dia menanyakan saya perihal perut sudah terisi atau belum.


Karena kita akan fokus membahas tradisi melayani tamu di sini, saya akan menceritakan hal serupa ketika saya baru datang di Lombok, hingga seminggu saya berada di Lombok.


Istri saya yang dasarnya orang Jawa tak paham kenapa harus sajian utama? Bukannya sudah ada kue kering atau jajan basah lainnya? Tak ada alasan, orang-orang sasak sering percaya, keberkahan akan datang ketika kita memuliakan tamu.


"Semakin sering bertemu, semakin bertambah rezeki, semakin bertambah umur kita," ujar Amaq (sebutan ayah bahasa sasak) salah seorang sahabat saya.


Memuliakan tamu menjadi hal yang wajib, kata salah seorang teman saya. Bahkan walaupun harus sampai berutang. Hidangan yang sudah tersaji harus disantap jika tak ingin melukai hati tuan rumah.


"Terlebih tamu dari jauh, kita kan mikirnya perjalanan jauh bikin perut kosong," kata Inaq (sebutan ibu dalam bahasa sasak) salah seorang kerabat saya juga.


Lima kali bertamu, berarti lima kali makan berat. Orang-orang suku Sasak tak segan mengeluarkan segala bentuk makanan yang mereka miliki untuk menyambut tamu mereka.


Yang membuat saya terkejut adalah, ketika saya datang menyengaja tanpa mengabarkan terlebih dahulu ke salah seorang kerabat juga. Kebetulan kerabat tersebut tidak sedang memasak sesuatu yang spesial seperti opor ayam. Hanya ada sayur bening dan pecel. Tapi kerabat yang sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri tersebut malah menawarkan hewan ternaknya yang ada saat itu untuk segera disembelih.


"Saya potongin ayam ya, masih tinggal dua," ujar kerabat saya tersebut.


Tentu saya menolak, saya memilih makan dengan sayur bening. Tapi, ayam yang tadi sudah diniatkan untuk disembelih ditempati karung dan kerabat saya memaksa saya untuk membawa ayam tersebut pulang ke rumah hidup-hidup.


Ajaran memuliakan tamu ini terus terjaga di kalangan masyarakat Lombok khususnya di desa-desa di Pulau Lombok. Ajaran tersebut senada dengan pesan Baginda Nabi Muhammad SAW.


"Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)


*Editorial ESQ Media


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA