Oleh: Mushlihin
ESQNews.id, JAKARTA - Segala puji bagi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun, di hari Jumat tanggal 9 Dzulhijjah saya dapat berpuasa Arafah dan takbiran serta jumatan. Saya juga bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Tunggal dan Maha Menundukkan. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabi pilihan.
Karenanya saya bersalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya serta pengikutnya. Saya perbanyak salawat di hari Jumat lantaran disaksikan oleh para malaikat.
Saya berupaya meningkatkan iman. Khotib berwasiat, "Ayo tingkatkan iman jangan sampai berkurang. Sebab iman dapat bertambah dan berkurang yaitu dengan bertaqwa kepada Allah dengan sebenarnya dan jangan mati kecuali dalam keadaan muslim."

Saya adalah orang Islam dewasa, berakal, berdomisili tetap, dan bebas dari aneka halangan agama sehingga mempunyai kewajiban salat Jumat. Apabila terdengar azan bersegera ke masjid dengan tenang. Saya berusaha tinggalkan semua pekerjaan. Meskipun tidak wajib jumatan orang sakit atau merawat orang sakit, hujan lebat, terik panas, dingin pol, rasa takut terhadap diri, bahkan harta yang dikhawatirkan hilang.
Semoga Allah mengampuni dosa saya antara Jumat ini dan Jumat berikutnya serta tambahan tiga hari. Semoga Allah juga menerima puasa saya yang tidak mampu berhaji (wukuf). Rasulullah bersabda, "Puasa hari Arafah menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang. Khususnya dosa kecil, sedangkan dosa besar harus melalui taubatan nasuha."
<more>
Selanjutnya takbir sejak subuh arafah pun sesuai petunjuk Allah, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd" (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan Selain Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan bagi Allah segala puji).
Sebagaimana yang pernah dilakukan Umar, Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud takbir sejak subuh di pasar, kemah dan perjalanan (HR. Baihaqi). Lebih dari itu Anas bin Malik melakukan takbir yang sama, dan Nabi tidak melarangnya (Muttafaq 'alaih).





