ESQNews.id, JAKARTA - Seorang
ibu sedang menyuapi anaknya yang sudah sekolah di kelas 1 SD. Sambil memasukkan
sendok ke dalam mulut sang anak, si ibu berkata, “Sudah besar makan masih
disuapi, pakai baju, pakai sepatu, masih dibantu, mandi masih harus dimandikan.
Kapan mau melakukan semuanya sendiri?” tanya sang ibu, sambil terus menyuapi.
Fenomena di atas, merupakan
hal yang umum terjadi pada orangtua di kota besar. Mereka kewalahan dan merasa
betapa repotnya mengurus anak-anak yang usianya sudah lebih dari tujuh tahun
namun masih serba dibantu.
Kebanyakan orangtua, meski sering mengeluh bahkan marah pada anak-anaknya, kenyataannya banyak di antara mereka yang masih terus melayani semua kebutuhan anaknya. Akibatnya, ketidakmandirian ini terus terbawa hingga anak bertambah besar.

Secara fitrah, setiap
bayi tanpa perlu disuruh dan dilatih memiliki naluri berkembang untuk mandiri. Contoh
nyata, bayi secara otomatis akan belajar untuk tengkurap, merayap, dan merangkak
sendiri.
Akan tetapi, yang terjadi, sering orangtua dan lingkungan kurang memberi dukungan dan kesempatan terhadap proses kemandirian anak.
Ada seorang anak yang berusia dua tahun namun sudah terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Ia mampu melepas sepatu dan kaos kaki, menggulung kaos kaki dengan rapi dan memasukkannya ke dalam sepatu, lalu merekatkan perekat sepatu sehingga kembali rapi, lalu menyimpan sepatunya ke dalam rak dengan posisi yang rapi.




